Rabu, 31 Okt 2007
Arti sebuah gejala alam tergantung makna yang diberikan padanya. Begitupun dengan fenomena arus sungai Digoel yang terdapat Kabupetan Mappi, Papua.
Selama ini, banyak terjadi kecelakaan di sungai tersebut. Karenanya, masyarakat sekitar menganggap sungai Digoel terlarang. Rupanya, Louis F Wagatu, Apolimus M Mabur dan Hiacentha F Rumlus justru penasaran dengan larangan tersebut.
Setelah bertanya ke beberapa orang, ada satu jawaban yang membuat mereka terhenyak. Seorang kakak kelas memberi tahu Apolimus bahwa kecelakaan yang terjadi di sungai Digoel akibat gelombang sungai yang sangat tinggi, sekitar 2-4 meter. Tak haya itu, rupanya gelombang tersebut juga membawa potongan-potongan kayu. Jadi, sampan atau perahu nelayan tak hanya dihantam gelombang tapi juga potongan kayu.
"Kapal bisa tenggelam karena hantaman kepala arus yang gelombangnya mencapai 2-4 meter dengan kecepatan 3,5 km per jam serta gemuruhnya mirip pesawat Hercules," kata Louis.
Ketiga siswa SMA 1 Oba`a, Mappi, pun mulai meneliti arus sungai Digoel. Mereka tak hanya mengamati, tapi juga mencari data pendukung. "Cari data paling sulit. Kami harus menghubungi banyak pihak meminta data itu dikirimkan. Makan waktu enal bulan baru datanya terkumpul. Kami dibantu Dinas Perhubungan Kabupaten Merauke dan Kesatuan Bahari Indonesia," kata Apolimus yang akrab disapa Ari.
Dalam meneliti, mereka membandingkan tiga sungai yakni Digoel, Maro dan Kumbe. Ternyata, kepala arus bisa muncul karena beberapa hal, yaitu sumber air dari hulu sungai, kecepatan air pasang surut, panjang dan lebar sungai, kecepatan arus sungai dan laut, kedalaman, pasang, kecepatan angin dan lebar muara sungai.
"Arus dari hulu sungai sangat kencang, lalu bertemu arus dari laut yang lebih kencang lagi. Saat berbenturan itulah bisa timbul gelombang tinggi," ujar Ari.
Dengan penelitian ini, ia berharap dapat menyadarkan masyaralat akan pertanda timbulnya arus dan menunda perjalanan mereka melintasi sungai. Tanda-tanda tersebut adalah air sungai surut jauh melebih kenormalan, timbul gelembung-gelembung air, dan angin bertiup kencang. "Tak ada waktu pasti terjadinya arus ini, jadi harus selalu berhati-hati," ujar Ari.
Hasil penelitian mereka rupanya manarik perhatian juri Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang diadakan Lembag Ilmu Pengetahuan Indoensia (LIPI). Ari dan kedua kawannya pun menjadi juara pertama, sedang juara kedua dipegang oleh Andrea Aprilia dan Monika Setiawan dari SMA Stella Duce I Yogyakarta di tempat yang meneliti tentang pengaruh lidah buaya terhadap minyak jelantah dan juara ketiga dipegang oleh Devina Oktavianingrum, Vivi AK dan Laily Immawati dari Lembaga Pengkajian Ilmiah Bina Bangsa, Jombang, Jawa Timur tentang larutan durian sebagai pengusir nyamuk. Ika Karlina Idris
Dimuat di Jurnal Nasional
Friday, December 07, 2007
Belajar Mengolah Rasa lewat Fotografi
Selasa, 30 Okt 2007
Perkembangan teknologi digital membawa dampak besar pada perkembangan dunia fotografi. Saat ini, kendala teknologi, hampir-hampir tak menjadi masalah. Berbagai peralatan fotografi digital memungkinkan teknik-teknik fotografi yang dulunya sulit, kini menjadi mudah.
Hanya saja, perkembangan ini ternyata berdampak bagi pendidikan fotografi di Indonesia. Menurut fotografer senior Darwis Triadi, di seluruh Indonesia, hanya ada sekitar tiga atau empat universitas yang mempunya program khusus fotografi. Sayangnya, jumlah tenaga ahli yang di universitas tersebut kurang memadai.
"Saya banyak datang ke universitas untuk memberi masukan tentang perkembangan fotografi, utamanya kea rah digital karena inilah yang sangat kurang. Biar gap di kampus dan perkembangan sebenarnya tidak terlalu jauh," kata Darwis dalam sebuah seminar fotografi yang diadakannya dengan Sampoerna Foundation, Jumat pekan lalu, di Jakarta.
Saat ini, fotografi sudah dapat dijangkau semua kalangan, dari murid sekolah dasar hingga ibu rumah tangga. Yang paling penting, katanya, adalah menekankan bahwa fotografi adalah seni. Jadi, seseorang harus mengolah rasanya dan menghancutkan semua aturan-aturan baku tentang fotografi.
Berbicara foto tentulah tak jauh dari seni. "Jika teknis tak lagi jadi kendala, maka mata kitalah yang harus dilatih. Dilatih menangkap komposisi yang bagus dan bias berkompromi dengan alam," ujar Darwis yang sudah menekuni dunia ini selama 25 tahun.
Cara paling mudah untuk mengolah seni, menurutnya adalah tidak mengikuti angle (sudut pengambilan gambar) yang sering dilakukan orang lain. Jika bepergian ke suatu tempat, jangan mudah percaya dengan pemandu wisata. "Eksplorlah tempat-tempat yang tidak dikunjungi turis. Kalau angle anda sama dengan yang lain, tak akan spesial."
Untuk itu, katanya, menekuni fotografi memerlukan komitmen dan semangat, motovasi, dan mental yang kuat. Belajar fotografi, ucapnya, adalah belajar mengolah rasa, sedang kamera dan komputer hanyalah alat. "Jangan sekali-kali tergantung pada alat," katanya.
Seseorang yang belajar fotografi harus dapat berdialog dengan diri sendiri agar seni yang terdapat dalam dirinya muncul. Contoh sederhanyanya adalah membedakan seni fotografi dengan pornografi. Kedua, kata Darwis, hanya dibedakan oleh tujuan dan kepekaan rasa.
"Kalau mau ke arah seni, lakukanlah dengan semangat yang baik dan tanggung jawab moral. Lalu, kalau mau dikomersilkan juga tidak mengapa. Selama ini banyak fotografer yang merasa melacurkan dirinya jika menjual foto. Padahal, sebuah karya seni sudah biasa diperjualbelikan," urai Darwis yang terkenal senang memotret perempuan cantik. Ika Karlina
Dimuat di Jurnal Nasional
Subscribe to:
Posts (Atom)