Showing posts with label foto. Show all posts
Showing posts with label foto. Show all posts

Wednesday, October 10, 2007



S B Y


**
foto diambil setahun lalu di Bukittinggi

Wednesday, August 15, 2007




*foto itu diambil waktu pentas teater siluet Juli lalu. Lokasi Gedung Kesenian Jakarta.

Friday, June 29, 2007



sudah lama saya tidak jalan-jalan..
lama sekali sampai saya lupa kapan itu..

Wednesday, June 20, 2007


Archeology goes to mall.

Wednesday, January 10, 2007




Ada satu tulisan yang lupa saya posting, masih oleh-oleh dari padang. Aslinya sih tidak seperti ini. Herannya, meski sudah membuat sesuai pesanan, kok tidak dimuat juga? Coba kamu baca dengan kritis pesan tersembunyi yang ada di dalamnya. Hehe!

Apa Iya?


Sisa-sisa hujan masih terlihat di sepanjang jalan menuju Desa Parit Malintang, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Udara saat itu dingin dan lembab.

Di sebuah tanah lapang, ratusan orang berkumpul. Bahkan, ratusan pelajar dan ibu-ibu berjejer sambil berangkulan tangan. Mereka Basah. Tak hanya rambut dan baju, tapi basah seluruh badan.

Jelas sekali hujan ikut mengguyur mereka. Untuk mendapatkan sedikit kehangatan, mereka melipat tangan di depan dada ataupun berangkulan. Meski begitu, dingin tak juga hilang.

Sekali menyapukan pandangan, terlihat bahwa mereka semua menggigil.

Akan tetapi, begitu sebuah mobil melewati jejeran orang-orang itu, udara dingin yang mereka rasakan seperti hilang begitu saja. Mereka bertepuk tangan dan melambai ke arah penumpang yang ada di mobil.

Beberapa di antara mereka yang menggunakan seragam pramuka, malah bernyanyi-nyanyi sambil bertepuk tangan ala pramuka. Mereka yang tadinya sibuk menghangatkan badan seolah lupa dengan dingin yang mereka rasakan. Sosok yang turun dari dalam mobil dengan plat nomor Indonesia 1 memukau mereka.

Setiap pandangan mengikuti langkah penumpang mobil hingga ia hilang di tengah kerumunan.

Di sebuah lapangan di Desa Parit Malintang, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Presiden Republik Indonesia datang.

Lapangan itu dipasangi tenda yang berukuran sekitar setengah lapangan bola. Sesekali air hujan yang tertampung di atas tenda, menetes dan membasahi orang-orang dibawahnya. Karpet merah yang dipasang sebagai alas lapangan juga basah.

Jika saja yang saat itu datang bukan Presiden RI , rasanya tak akan ada seorang pun yang sudi berada di tempat seperti itu dengan cuaca yang tak kalah buruknya.

Orang-orang yang datang ke lapangan tersebut tambah bersemangat sewaktu disapa dengan bahasa mereka.

“Babelok jalan ke Padang Pariaman. Habis hujan terbitlah terang,” ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang langusung diiringi tepuk tangan orang-orang di lapangan.

Setelah diam beberapa saat, SBY melanjutkan,”Kami datang dengan cinta dan harapan. Kemiskinan hilang, kesejahteraan datang.”

Setelah itu, hujan yang mengguyur mereka sejak 3 jam lalu seolah tak berarti.

“Saya datang ke sini memang mau lihat presiden. Saya dari pagi di sini, tapi waktu hujan saya teduh di rumah itu,” ujar Samsiar, 55 tahun, sambil menunjuk sebuah rumah yang ternyata halamannya pebuh dengan orang-orang yang punya maksud sama dengannya.

Selama ia hidup, Samsiar mengaku SBY adalah presiden pertama yang ia lihat langsung. Maklum saja, SBY memang presiden pertama yang dating ke desa itu.

“Lihat di tivi juga jarang. Saya ndak ado tivi,” ujar Samsiar yang harus berjalan kaki sekitar 15 menit untuk tiba ke lapangan tersebut.

Lain lagi dengan Purnamasari. Siswi kelas 3 SLTP 4 Singguling, Lubuk Aluang, Padang Pariaman itu merasa senang karena hanya 10 orang dari sekolahnya yang diminta datang ke lapangan tersebut untuk menyambut SBY.

“Yang pilih bu guru. Teman-teman yang lain boleh juga, tapi kan harus sekolah. Sedang kami yang 10 orang itu diliburkan, disuruh dating ke sini saja,” katanya polos.

Ia mengaku datang ke lapangan tersebut sejak jam 11 WIB. Akan tetapi, hujan turun sejak pukul 13.00 hingga sekitar pukul 15.00 WIB. SBY dan rombongan baru datang sekitar pukul 16.00 WIB.

“Sama kakak pembina kami tidak boleh tinggalkan lapangan,” ujar Cintia yang juga dating bersama rombongan pramuka dari sekolahnya.

Awalnya, hujan turun rintik-rintik. Tak lama, hujan semakin deras. Meski begitu, mereka tetap tak beranjak.

“Pas hujan kami nyanyi-nyanyi saja. Untung dihibur kakak pembina,” tutur Cintia sambil mengatupkan jari-jarinya di depan mulut. Sesekali ia berusaha menghangatkan mereka dengan menggegesek-gesekkannya.

Keduanya mengaku sudah diberi penganan dan air minum, walau sama sekali belum diberi makan nasi. Keduanya juga tak merasa keberatan harus diguyur hujan, kebasahan, dan menahan lapar.

“Tidak apa-apa. Saya mau lihat presiden,” kata Purnamasari.

Saat itu, SBY hanya berada di sana kurang lebih sekitar 45 menit. Ia datang untuk mencanangkan pengentasan kemiskinan berbasis nagari di Kabupetan Padang Pariaman.

Sesudah itu, ia langsung pergi. Masih ada berbagai rangkaian acara yang harus dihadirinya selama berkunjung dua hari ke Sumatera Barat. Salah satunya, menerima gelar Sasongko adat dari masyarakat Nagari Tanjung Alam, Tanah Datar, Sumatera Barat.

Meski sebentar, namun ingatan tentang sosok presiden tentu tak akan hilang dari ingatan orang-orang lain yang ada di lapangan tersebut. Lalu, apa arti mereka bagi SBY? Akankah dia mengingat orang-orang yang menggigil di lapangan itu?

Friday, January 05, 2007

Monday, September 18, 2006




Me and The Legend

Thursday, July 13, 2006





2. Ngarai Bentang
(Pendidikan Dasar Gunung Hutan tahun 1999)
Sekelompok murid-murid SMU 70 ikut pelantikan Organisasi Penjelajah Alam Sisgahana dengan bermacam motivasi. Ada yang karena dipaksa senior, ada yang mau “aman”, ada yang naksir sama ketuanya, ada yang suka jalan-jalan, dan ada yang ikut karena jaketnya warna merah (biar sesuai sama sepatu yang dia pake).

Sandy, Danar, Alfian, Wicak, Rismanda, Adit “dudut”, Eva, Ika, Arti, Arin, Rima, Obo, Dian, Chessy.

Sewaktu PDGH:
Ada yang bivaknya runtuh dan membuat satu kelompok terkubur dedaunan, ada yang jatuh dari pohon waktu praktek tidur kalong, ada yang makannya rakus, ada yang bibirnya kering sampai pecah-pecah, ada yang disuruh pulang sama senior, ada yang kena gampar, ada yang berguling dari ketinggian 50 meter sewaktu rapeling, ada yang tidak hapal lagu pancasila, ada yang baru ketahuan kalau asalnya dari madura, ada yang curhat, ada yang lihat kunang-kunang, ada yang jatuh cinta, ada yang menyanyi “leavin on a jet plane”, dan kami saling menggandeng tangan dan berpelukan sewaktu disebutkan nama ‘Nagarai Bentang’.

Setahun setelah PDGH:
ada yang pindah ke Bandung, ada yang cuma jadi penggembira, ada yang jadi anggota sismak (dibaca: Kamsis, dibaca: Keamanan Siswa, dibaca: tukang berantemnya SMU 70), ada yang kabur lewat genteng karena tidak boleh bertualang, ada yang sampai ke Rinjani, ada yang ke Semeru, ada yang disusul kepala sekolah ke gunung Batu karena ternyata tidak ijin ke orang tua, ada yang cinta lokasi dan jadian, ada yang jadian di belakang papan panjat sisgahana, ada yang diam-diam saling menyintai.

Sampai saat ini, semuanya masih ada. Meski kami berbeda tempat dan aktivitas, alam selalu mengumpulkan semua kami secara alamiah.



6. Keluarga Karlina Idris dan keluarga Ambang Gemilang:

Ya! Itu nama belakang saya dan Puti. Awalnya, saat kami jadi panitia Orientasi Jurnalistik jurusan Jurnalistik Fikom Unpad. Kami bermain tebak gambar. Untuk membedakan kelompok, diambillah nama belakang kubu Karlina Idris untuk kubu saya dan Ambang Gemilang untuk keluarga Puti.
Anak-anaknya rame, bego, dan centil-centil. [well, tentu saja semua bukan dalam arti yang sebenarnya lho!]

Sukma, Indi, Yenny, Tongki, Sari, dan Hani.

Sunday, June 11, 2006

Tuesday, May 16, 2006




Ternyata kau masih mengingatnya


Impian kita untuk menjadi diri sendiri

yang kita semai sewaktu kau masih memakai tas kuning yang norak dan aku berjalan mengangkang seperti anak laki-laki

yang kita bayangkan sambil sesekali ditilang polisi, mengisap sampoerna mild merah, kebingungan dengan topik liputan, mengetik hingga larut, dan juga menonton di bioskop sebagai pelarian karena tugas yang menumpuk


Impian kita untuk bahagia

Berdiri di depan jendela sebuah apartemen sambil menikmati kopi hangat yang baru saja dituang dari mesin cappucino bikinan luar negeri
Tergesa-gesa berpakaian sambil sarapan, membuang sampah, memberi makan kura-kura, dan juga melihat berita pagi di televisi plasma

Belum lagi wisata safari ke Afrika, menyelam di pulau berau untuk melihat ubur-ubur, bungee jumping, berfoto di puncak rinjani, atau makan siang di venesia..


Aku bahkan sudah bahagia hanya dengan membayangkannya

Sore ini, kau mengingatkanku semuanya
Kau mengatakan semuanya sewaktu sinar emas matahari senja jatuh di jari-jariku yang sedang mengetik

Aku belum separuh jalan, meski mulai lebih dulu

Kawan, bukan masalah jika kita gagal

Dan apakah yang sebenarnya kita inginkan?

(Untuk Puti, untuk waktu-waktu bahagia yang kita lewati meski tidak harus menjadi masokis)

Friday, May 05, 2006




seandainya pikiran ini kertas, akan kulipat dan kubuat pesawat terbang atau burung
agar dapat kuterbangkan dan kukirim padamu
ah.. kata siapa jarak bukan masalah?

sewaktu aku melewati jalan-jalan berkabut
ada pusaran yang menarikku
di bawah sana ada kau dan aku yang sedang berjalan sambil mengantuk dan kelelahan..
pusaran yang membuatku mual dan ingin muntah
dan kau tahu?
saat ini, kuingin benar bersama dirimu...



(Halimun, suatu hari di Pebruari, jam 5 pagi waktu setempat)

aku melihat jakarta dari atas...

dan bermainlah nada-nada itu di kepalaku...

aku hanyalah manusia yang hidup dalam kenangan

dan kenangan itu adalah saat ini


(You will fly and you will fall, god knows even angels fall...)

-21 Pebruari 2006-