Kerajaan bisnis keluarga Sampoerna bermula dari semangat bertahan hidup sebagai imigran. Pada generasi ke dua, semangat itu pun berubah jadi mengembangkan bisnis. Di tangan generasi ketiga, semangat untuk melakukan terobosan baru sangat terlihat.
Lalu bagaiaman dengan generasi sekarang? Dan bagaimana dengan generasi yang akan datang? Dengan jumlah kekayaan mereka saat ini, rasanya semangat itu bukan lagi untuk bertahan hidup ataupun mengembangkan bisnis.
Sebagai gambaran, saat Putera Sampoerna menjual sahamnya ke Philip Morris International Inc pada Maret 2005, nilainya mencapai Rp18,5 triliun. Majalah Globe Asia, Edisi Agustus 2007, menyebutkan bahwa Putera Sampoerna, berada di urutan kelima dari 150 orang terkaya di Indonesia. Jumlah kekayaannya senilai 2,2 dolar AS miliar atau sekitar Rp 20,02 triliun.
Pada peluncuran buku sejarah keluarga Sampoerna, Albert Wibisono dari House of Sampoerna bercerita banyak tentang semangat keluarga itu. "Meski sudah berhasil seperti sekarang, tapi mereka tetap mengelola bisnis dengan profesional. Semangat generasi Sampoerna yang sekarang pun adalah semangat filantropik," katanya.
Nilai-nilai yang ada dalam keluarga selalu diwariskan. Yang paling ditekankan, tambahnya, bahwa perusahaan tak hanya untuk keuntungan, tapi juga untuk dedikasi.
"Mereka mencintai bangsa ini. Keluarga Sampoerna punya pilihan terhadap apa yang akan mereka lakukan untuk Indonesia," tegas Albert. Sebenarnya, Putera dan istrinya Ketie tidak dilahirkan di Indonesia, begitupun dengan keturunan mereka. "Tapi mereka selalu kembali ke negara ini dan berbuat sesuatu."
Menurut Ayu Utami, sebenarnya identitas adalah sesuatu yang diciptakan masyarakat. Jika ditanya tentang kecintaannya akan Indonesia, ia hanya berkata bahwa ia tak punya pilihan lain. "Bukan karena bangsa ini istimewa, tapi karena saya memang dilahirkan di sini."
Bagi keluarga Sampoerna, semangat mencintai bangsa ini diwujudkan dengan membuka kesempatan untuk mengecap pendidikan. Tepat 1 Maret 2001, Jacqueline Michelle Sampoerna, anak dari Putera Sampoerna, mendirikan Sampoerna Foundation (SF).
Saat ini SF termasuk salah satu yayasan nirlaba terbesar yang didirikan oleh keluarga pengusaha. SF juga telah memberikan lebih dari 25.000 beasiswa mulai dari tingkat SD hingga S-2. Mereka juga mengirimkan putra-putri terbaik bangsa ke sekolah bisnis top di dunia, semisal Harvard Business School, Hass School of Business, Wharton School, dan London Business School.
SF juga membuka program perbaikan kualitas guru bernama Teacher Institute dan bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung membuka Sampoerna School of Business and Management (SBM-ITB). Selain itu, ada juga program United Schools Program (USP), untuk memperbaiki kualitas Sekolah Menengah Atas. USP sudah dilakukan di 17 sekolah negeri di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Adapun total dana bantuan pendidikan yang disalurkan pada kuartal keempat tahun 2006 mencapai 4,85 juta dollar AS atau sekitar Rp 43,6 miliar.
Menurut Albert, semangat filantropik dikeluarga ini sudah ada sejak awal. "Yang menarik adalah saat Jepang masuk ke Indonesia. Keluarga ini lebih memilih untuk membagikan tembakau mereka ke penduduk sekitar daripada dirampas sama Jepang."
Mengenai kegiatan filantropik, Putera mengatakannya sebagai kegiatan yang dilakukan turun-temurun. "Aktivitas ini telah dimulai oleh kakek saya, lalu dilanjutkan ayah saya, dan kini dikembangkan lebih jauh oleh saya dan anak-anak saya," katanya beberapa waktu lalu.
"Kami merasa perlu mengingatkan diri kami atas berkah yang kami terima dan membagi karunia tersebut kepada mereka yang kurang beruntung. Sebagaimana kata pepatah, yang kaya membantu yang miskin. Dan, yang kuat menolong yang lemah. Tradisi ini akan terus kami jaga dan pelihara."
Dimuat di Jurnal Nasional, 13 September 2007
Tuesday, October 09, 2007
Mencari Arah Pendidikan Tinggi Seni di Indonesia
Pendidikan dan Perguruan Seni di Indonesia ibarat atlet panahan yang sedang berusaha mengarahkan anak panahnya ke sasaran. Sasaran itu bergerak cepat dan dinamis.
Perguruan tinggi seni kini berkembang pesat. Semakin banyak perguruan tinggi yang merasa perlu menyelenggarakan program studi tentang kesenian, tak hanya pada tingkat sarjana tapi juga master dan doktor.
Namun, ke mana orientasi pendidikan ini sebenarnya?
Dalam sebuah seminar bertajuk Pendidikan Apresiasi Seni, yang diselenggarakan di Universitas Nasional Jakarta, Senin, 10 September, pakar-pakar pendidikan seni pun bertukar ide. Penyelenggaranya adalah Akademi Jakarta, yang tak lain adalah para seniman berprestasi yang bertugas merumuskan ide tentang kesenian.
Sebenarnya, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas telah mencoba mengakomodasi pendidikan tinggi seni. Beberapa waktu lalu, Tim Ditjen Dikti dan perwakilan disiplin seni dan perguruan tinggi seni merumuskan paradigma baru dalam pendidikan tinggi seni.
Inti pedoman itu adalah mencapai aspirasi pasal 56 HELTS (Higher Education Long Term Strategy), yakni "Art, particularly that is rooted at noble indigenous tradition and culture, is critical for strengthening the nation's character in addition to personal growth for developing creativity and innovation." (Seni, yang merupakan akar tradisi dan budaya, sangat penting untuk memperkuat karakter bangsa dalam mengembangkan kepribadian seseorang untuk menghasilkan kreatifitas dan inovasi).
Menurut Ketua Pusat Penelitian Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) Setiawan Sabana, pendidikan tinggi seni belum maksimal dalam memanfaatkan potensi seni tradisi yang ada di sekitar masyarakat. Hal ini diperparah dengan belum ada filter untuk menyaring seni yang datang dari luar.
"Para pendidik seni masih mengacu ke pemikiran barat, baik untuk materi, teknik, aliran, atau metode pengajaran," kata Setiawan. "Ini membuat genre seni tradisi khas Indonesia mati."
Menurut Endo Suanda dari Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN), sistem sekolah formal adalah warisan pemerintah kolonial. Titik tolak penggolongan disiplin seni pun mengacu ke Barat, yaitu seni musik, seni tari, teater, dan seni rupa. Keempat kategori itu, tak semuanya cocok jika dihadapkan dengan seni lokal.
Sebagai contoh, sindrilik di Makassar atau kentrung di Jawa adalah seni mendongeng sambil menyanyi atau main alat musik. Terkadang, pemain musik saling sindir ataupun bergurau dengan penontonnya. "Lalu, seni macam ini mau masuk ke kategori yang mana?" kata Endo.
Dulu, pendidikan seni berkembang di sanggar-sanggar. Pada 1974, sudah ada pengaturan tentang kurikulum yang menekankan pada basis isi. Saat ini, pendidikan tinggi seni sudah menerapkan sistem kredit semester (SKS), sehingga bobot ilmu dan seni seimbang.
"Sebenarnya, penerapan kaidah barat bisa dimengerti, karena kesenian barat memiliki sistematika yang paling lengkap. Sehingga sistem ini mampu memenuhi tuntutan sistem kurikulum. Kalau ini digunakan, bagaimana menggunakan kaidah budaya lokal kita," jelas Endo.
Untuk mengembangkan pendidikan seni, Setiawan melihat perlunya kurikulum berbasis kompetensi. "Harus bersifat multikultural, agar ada dialog antar budaya."
Bagaimanapun, seni budaya tradisional sangat beragam dan punya potensi yang tak pernah habis untuk dikembangkan. Yang tak kalah penting, tambah Setiawan, harus ada pergeseran paradigma dalam melihat pendidikan tinggi seni.
Selain itu, perguruan tinggi juga harus mengembangkan sikap terbuka dan kritis. Lalu, harus mau menjalin dialog. "Tak bisa lagi ada sikap sektarianisme, eksklusivisme, dan parsialisme."
Harusnya, pendidikan tinggi seni mengembangkan penelitian dan pendataan tentang berbagai seni yang ada di masyarakat sekitar. Masa kini, seni harus bisa mengimbangi perkembangan teknologi, dan riset-riset seni mutlak diperlukan.
"Setelah riset, publikasikanlah hasilnya. Lakukan penciptaan dan eksploitasi HaKI agar seni ini dapat menghasilkan teknologi dan bisa menjadi bisnis baru untuk dikembangkan."
Dimuat di Jurnal Nasional, 12 September 2007
Perguruan tinggi seni kini berkembang pesat. Semakin banyak perguruan tinggi yang merasa perlu menyelenggarakan program studi tentang kesenian, tak hanya pada tingkat sarjana tapi juga master dan doktor.
Namun, ke mana orientasi pendidikan ini sebenarnya?
Dalam sebuah seminar bertajuk Pendidikan Apresiasi Seni, yang diselenggarakan di Universitas Nasional Jakarta, Senin, 10 September, pakar-pakar pendidikan seni pun bertukar ide. Penyelenggaranya adalah Akademi Jakarta, yang tak lain adalah para seniman berprestasi yang bertugas merumuskan ide tentang kesenian.
Sebenarnya, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas telah mencoba mengakomodasi pendidikan tinggi seni. Beberapa waktu lalu, Tim Ditjen Dikti dan perwakilan disiplin seni dan perguruan tinggi seni merumuskan paradigma baru dalam pendidikan tinggi seni.
Inti pedoman itu adalah mencapai aspirasi pasal 56 HELTS (Higher Education Long Term Strategy), yakni "Art, particularly that is rooted at noble indigenous tradition and culture, is critical for strengthening the nation's character in addition to personal growth for developing creativity and innovation." (Seni, yang merupakan akar tradisi dan budaya, sangat penting untuk memperkuat karakter bangsa dalam mengembangkan kepribadian seseorang untuk menghasilkan kreatifitas dan inovasi).
Menurut Ketua Pusat Penelitian Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) Setiawan Sabana, pendidikan tinggi seni belum maksimal dalam memanfaatkan potensi seni tradisi yang ada di sekitar masyarakat. Hal ini diperparah dengan belum ada filter untuk menyaring seni yang datang dari luar.
"Para pendidik seni masih mengacu ke pemikiran barat, baik untuk materi, teknik, aliran, atau metode pengajaran," kata Setiawan. "Ini membuat genre seni tradisi khas Indonesia mati."
Menurut Endo Suanda dari Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN), sistem sekolah formal adalah warisan pemerintah kolonial. Titik tolak penggolongan disiplin seni pun mengacu ke Barat, yaitu seni musik, seni tari, teater, dan seni rupa. Keempat kategori itu, tak semuanya cocok jika dihadapkan dengan seni lokal.
Sebagai contoh, sindrilik di Makassar atau kentrung di Jawa adalah seni mendongeng sambil menyanyi atau main alat musik. Terkadang, pemain musik saling sindir ataupun bergurau dengan penontonnya. "Lalu, seni macam ini mau masuk ke kategori yang mana?" kata Endo.
Dulu, pendidikan seni berkembang di sanggar-sanggar. Pada 1974, sudah ada pengaturan tentang kurikulum yang menekankan pada basis isi. Saat ini, pendidikan tinggi seni sudah menerapkan sistem kredit semester (SKS), sehingga bobot ilmu dan seni seimbang.
"Sebenarnya, penerapan kaidah barat bisa dimengerti, karena kesenian barat memiliki sistematika yang paling lengkap. Sehingga sistem ini mampu memenuhi tuntutan sistem kurikulum. Kalau ini digunakan, bagaimana menggunakan kaidah budaya lokal kita," jelas Endo.
Untuk mengembangkan pendidikan seni, Setiawan melihat perlunya kurikulum berbasis kompetensi. "Harus bersifat multikultural, agar ada dialog antar budaya."
Bagaimanapun, seni budaya tradisional sangat beragam dan punya potensi yang tak pernah habis untuk dikembangkan. Yang tak kalah penting, tambah Setiawan, harus ada pergeseran paradigma dalam melihat pendidikan tinggi seni.
Selain itu, perguruan tinggi juga harus mengembangkan sikap terbuka dan kritis. Lalu, harus mau menjalin dialog. "Tak bisa lagi ada sikap sektarianisme, eksklusivisme, dan parsialisme."
Harusnya, pendidikan tinggi seni mengembangkan penelitian dan pendataan tentang berbagai seni yang ada di masyarakat sekitar. Masa kini, seni harus bisa mengimbangi perkembangan teknologi, dan riset-riset seni mutlak diperlukan.
"Setelah riset, publikasikanlah hasilnya. Lakukan penciptaan dan eksploitasi HaKI agar seni ini dapat menghasilkan teknologi dan bisa menjadi bisnis baru untuk dikembangkan."
Dimuat di Jurnal Nasional, 12 September 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)
